Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Jejak Luka, Jejak Cinta Baru

Minggu, 22 Februari 2026 | 06:21 WIB | 0 Views Last Updated 2026-02-22T14:23:17Z










Holandia, Kapiwuunews.org - Tahun 2020 menjadi titik persimpangan dalam hidup Bedugi. Setelah menyelesaikan pendidikan di SMK Pongtiku Nabire, ia seharusnya melangkah ke dunia perkuliahan, mengejar cita-cita yang sejak kecil ia gantungkan setinggi langit. Namun langkah itu terhenti bukan karena biaya, bukan karena ketidakmampuan, melainkan karena cinta Pada Minggu 22 Februari 2026.


Sejak kelas dua SMK, Bedugi mengagumi seorang gadis yang baginya begitu sempurna. Perlahan, kekaguman itu berubah menjadi cinta yang membutakan. Dunia terasa hanya berputar di sekelilingnya. Demi gadis itu, ia menunda mimpi. Demi gadis itu, nasihat orang tua terdengar seperti angin lalu yang tak perlu ditangkap maknanya.


Fokusnya hilang. Harapan yang dulu kokoh kini retak sedikit demi sedikit. Satu nama memenuhi pikirannya, menggeser ambisi yang pernah ia perjuangkan.


Awalnya hubungan mereka direstui kedua keluarga. Orang tuanya menerima gadis itu dengan tangan terbuka, begitu pula sebaliknya. Mereka hampir menjadi satu keluarga. Namun badai datang tanpa tanda. Orang ketiga menanamkan cerita-cerita buruk tentang Bedugi. Tanpa mencari kebenaran, orang tua sang gadis mempercayainya.


Suatu hari Bedugi diundang untuk menyelesaikan persoalan itu. Di hadapan keluarga dan Pak RT, ia sudah menyiapkan keputusan besar: sekalipun hubungan itu direstui kembali, ia akan memilih mundur. Setahun lamanya ia menahan sikap dan perlakuan yang membuatnya merasa hanya dimanfaatkan saat dibutuhkan.


Ketika pertemuan berlangsung, gadis yang dulu ia anggap segalanya berkata dengan tegas bahwa ia tidak akan bersamanya untuk selamanya, karena memilih tetap bersama orang tuanya. Saat tiba gilirannya berbicara, Bedugi hanya tersenyum tipis.


“Saya senang jika kita tidak bersama untuk selamanya.”


Kalimat itu menutup kisah mereka.

Namun penutupan itu bukan awal yang indah. Hidup Bedugi justru berubah ke arah yang gelap. Ia tenggelam dalam kenakalan remaja. Minuman keras menjadi pelarian, rokok tak pernah lepas dari jarinya. Ia merasa bebas, merasa kuat, padahal sebenarnya ia sedang kehilangan dirinya sendiri.


Awal Januari 2022, dalam keadaan mabuk di rumah, ponsel Nokia lamanya bergetar. Panggilan dari saudara perempuannya.


“Melki, bisa ke Pantai Nabire sekarang?” suaranya terdengar tegas.


Bedugi menolak. Ia tak sanggup mengendalikan diri. Namun jawaban di seberang telepon membuatnya gelisah.


“Kalau begitu, saya akan datang dengan cara saya sendiri.”


Telepon terputus. Entah mengapa hatinya tak tenang. Akhirnya ia memutuskan pergi ke pantai itu dengan menaiki ojek.


Setibanya di sana, ia terkejut. Itu bukan saudara perempuannya. Seorang perempuan berdiri menatap ombak. Wajahnya asing, namun tatapannya seakan mengenal Bedugi sejak lama. Ia membayar ojek dan menarik tangan Bedugi ke tempat duduk di tepi pantai.


“Aku Marta,” katanya singkat. “Dua tahun terakhir ini saya sedih lihat kehidupan kamu.”


Bedugi terdiam. Kata-kata itu menembus dinding hatinya.


Aku sudah tidak punya harapan untuk mengadu dan meminta tolong, jawabnya pelan. “Aku terlalu terjebak dalam cinta, sampai lupa menyelamatkan diri sendiri. Marta menatapnya tegas. 


“Kamu pikir perempuan di dunia ini hanya dia? Perempuan yang lebih baik pasti ada. Tapi hidup kamu bukan tentang perempuan. Kamu harus lanjut kuliah. Saya tunggu kamu jadi manusia berkualitas di Siriwo.”


Kata-katanya tajam, namun penuh kepedulian.


“Ekonomi bukan alasan. Tuhan sumber segala sesuatu. Dekatkan diri pada-Nya, dan kamu akan lihat jalan terbuka.”

Ombak di Pantai Nabire menjadi saksi percakapan itu. Di antara deburan air dan angin laut, Bedugi merasa ada sesuatu yang pulih. Seolah Tuhan mengirim Marta untuk membangunkannya dari tidur panjang.


Sejak hari itu, ia perlahan meninggalkan kebiasaan buruknya. Ia bekerja, berjuang, mengumpulkan biaya. Anehnya, jalan mulai terbuka. Berkat datang satu demi satu. Pintu yang dulu terasa tertutup kini terbuka lebar.


Akhirnya ia berangkat ke Hollandia kini dikenal sebagai Jayapura untuk mendaftar kuliah.


Dari patah hati, ia belajar tentang harga diri.
Dari kegelapan, ia belajar tentang terang.
Dan dari ombak di Pantai Nabire, ia menemukan kembali arah hidupnya.


Terkadang Tuhan tidak langsung mengangkat kita dari kejatuhan.
Ia mengirim seseorang…
untuk mengingatkan siapa diri kita sebenarnya.


(Penulis : M Obaipa)

×
Berita Terbaru Update