Deiyai, Kapiwuunews.org — Seminar Sosialisasi Mahasiswa dan Mahasiswi Kedegapo se-Indonesia bersama warga Kedegapo sukses digelar pada Minggu, 4 Januari 2026. Kegiatan tersebut berlangsung di Aula Aweida, Klasis Tigi Utara, Gakokebo, Kabupaten Deiyai.
Seminar ini bertujuan membekali mahasiswa dan mahasiswi Kedegapo dengan pemahaman serta komitmen sosial melalui tiga materi utama, yakni pengaruh sosial, kondisi paroki dan klasis, serta upaya memperkuat Ikatan Keluarga Besar (IKB) Kedegapo Deiyai.
Materi pertama tentang Pengaruh Sosial dipaparkan oleh Senioritas Kedegapo, Ansel Pekei, S.Pd. Dalam pemaparannya, Ansel menegaskan bahwa pengaruh sosial tidak datang dari luar semata, melainkan muncul dari tindakan pribadi seseorang di tengah masyarakat.
Ia menjelaskan berbagai bentuk pengaruh sosial yang terjadi di lingkungan Kedegapo, mulai dari pengaruh politik, pemekaran kampung atau desa, dampak pelajar dan mahasiswa pasca kembali dari kota studi, hingga pengaruh pendidikan, pembentukan karakter, serta penyakit sosial di tengah masyarakat.
Ansel menekankan agar mahasiswa dan mahasiswi mampu menghindari pengaruh sosial negatif, tetap fokus belajar di kota studi, serta kelak kembali ke kampung untuk berbagi pengetahuan. Ia juga mendorong lulusan perguruan tinggi agar aktif mengambil peran dalam gereja maupun Ikatan Keluarga Besar Kedegapo.
Materi kedua bertema Keadaan Paroki dan Klasis di Wilayah Kedegapo disampaikan oleh Naftali Pekei. Menurutnya, materi ini penting untuk seluruh elemen masyarakat karena membahas kondisi, tantangan, dan persoalan gereja di tingkat paroki dan klasis.
Naftali menguraikan beberapa poin penting, di antaranya kondisi geografis wilayah Kedegapo yang luas dan potensial untuk mendukung kehidupan masyarakat serta aktivitas gereja. Ia juga menekankan pentingnya kepastian dan keamanan lokasi aset gereja yang menjadi tanggung jawab dewan paroki dan majelis.
Selain itu, ia menjelaskan aspek demografi umat sebagai kekuatan utama pelayanan gereja, pentingnya sarana dan prasarana seperti gedung gereja, aula, sekolah minggu (Tabia), rumah pastor dan pendeta, hingga pengelolaan aset gereja secara baik dan transparan.
Dalam aspek ekonomi gereja, Naftali mendorong paroki, klasis, jemaat, dan stasi untuk membangun kemandirian ekonomi melalui koperasi, kios, atau usaha lain guna mendukung pembiayaan pelayanan dan pembangunan gereja.
Sementara itu, materi ketiga tentang Penguatan Ikatan Keluarga Besar (IKB) Kedegapo Deiyai dipaparkan oleh Weni Agapa, S.Pd. Ia mengajak seluruh warga Kedegapo untuk menyadari bahwa IKB berada di tengah-tengah masyarakat dan perlu diperkuat bersama.
Weni menekankan pentingnya kegiatan pembinaan karakter, lomba adat dan tradisional, serta berbagai aktivitas kebersamaan sebagai sarana mempererat persaudaraan dan memperkuat peran IKB Kedegapo di tengah masyarakat.
Melalui seminar ini, mahasiswa dan mahasiswi Kedegapo diharapkan mampu menjadi agen perubahan yang berkomitmen membangun masyarakat, gereja, dan ikatan kekeluargaan demi masa depan Kedegapo yang lebih baik.
