Nabire, Kapiwuunews.org – Pemerintah dan masyarakat diminta untuk serius menindaklanjuti dan menghentikan praktik pembakaran hutan yang masih terjadi di sepanjang jalur jalan Trans Nabire-Paniai, Kabupaten Nabire. Aktivitas ini dinilai sangat merugikan karena menjadi salah satu cara yang paling merusak kelestarian alam dan keseimbangan ekosistem hutan Pada 13 aplir 2026.
Pembakaran hutan, baik yang dilakukan secara sengaja maupun tidak terkontrol, memberikan dampak domino yang sangat buruk bagi lingkungan. Selain menyebabkan hilangnya tutupan pohon dan vegetasi asli, asap yang dihasilkan juga mengganggu kesehatan masyarakat serta visibilitas lalu lintas di jalan raya.
Lebih jauh lagi, pembakaran hutan menghancurkan habitat asli berbagai jenis flora dan fauna. Tanah yang gembur dan subur pun berubah menjadi tandus dan kehilangan unsur hara akibat suhu api yang tinggi. Hal ini tentu mengganggu rantai makanan dan keseimbangan alam yang telah terbentuk selama bertahun-tahun.
"Stop bakar hutan, adah sala satunya merusak hutan dan ekosistem hutan."
Pesan ini menjadi seruan keras agar kesadaran kolektif segera dibangun. Hutan bukan hanya kumpulan pohon, tetapi rumah bagi kehidupan yang saling mendukung. Merusaknya dengan api berarti merusak masa depan dan sumber kehidupan generasi mendatang.
Diharapkan, dengan kesadaran yang tinggi dari seluruh elemen masyarakat, praktik merusak ini dapat dihentikan. Pelestarian hutan di wilayah Trans Nabire-Paniai harus menjadi prioritas agar fungsi ekologis tetap terjaga dan lingkungan tetap lestari.

