Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

IPMADO Nabire Gelar Mimbar Rakyat, Tuntut Keadilan Kasus Penembakan di Dogiyai

Sabtu, 18 April 2026 | 16:41 WIB | 0 Views Last Updated 2026-04-19T00:03:48Z

Nabire, Kapiwuunews.org — Ikatan Pelajar Mahasiswa Dogiyai (IPMADO) menggelar aksi mimbar rakyat di kawasan Pasar Karang Tumaritis, Nabire, Papua Tengah, Sabtu 18 Aplir 2026.


Aksi tersebut merupakan bentuk protes sekaligus tuntutan keadilan atas insiden penembakan yang terjadi di Kabupaten Dogiyai pada 31 Maret hingga 2 April 2026, yang oleh massa disebut sebagai peristiwa “Dogiyai Berdarah”.


Sejak pagi, puluhan massa aksi mulai berkumpul dengan membawa poster, spanduk, serta sejumlah foto yang mereka klaim sebagai korban dari kalangan warga sipil. Dalam orasi yang disampaikan secara bergantian, peserta aksi menyoroti belum adanya kejelasan penanganan kasus tersebut serta mendesak aparat penegak hukum untuk segera melakukan penyelidikan secara menyeluruh.


Koordinator lapangan aksi, Ananias Douw, menyampaikan bahwa pihaknya menemukan sejumlah kejanggalan dalam peristiwa tersebut. Ia menekankan pentingnya investigasi yang transparan dan independen guna mengungkap fakta yang sebenarnya.


“Ada hal-hal yang kami nilai belum jelas. Karena itu kami meminta adanya penyelidikan terbuka agar kebenaran dapat diketahui oleh publik,” ujarnya di hadapan massa aksi.


Dalam orasi tersebut, massa juga menyinggung meninggalnya seorang anggota kepolisian, Juventus Edowai. Mereka menyampaikan adanya dugaan luka di bagian leher korban. Namun, informasi tersebut diakui masih memerlukan pembuktian lebih lanjut melalui proses penyelidikan resmi.


Pantauan di lokasi, jalannya aksi mendapat pengamanan ketat dari aparat kepolisian Polres Nabire. Sejumlah personel berjaga di sekitar area demonstrasi dengan membentuk barikade guna mengantisipasi potensi gangguan keamanan. Meski demikian, aksi berlangsung tertib dan kondusif hingga selesai.


IPMADO dalam tuntutannya menyoroti dugaan pelanggaran hak asasi manusia (HAM) dalam peristiwa tersebut. Mereka menyebut sejumlah indikasi, antara lain penyisiran aparat keamanan di tengah warga sipil, penggunaan senjata api yang dinilai tidak proporsional, serta munculnya ketakutan di masyarakat yang menyebabkan sebagian warga mengungsi.


Berdasarkan data awal yang disampaikan massa aksi, insiden tersebut diduga bermula dari pembunuhan seorang anggota polisi oleh pihak tak dikenal, yang kemudian diikuti dengan operasi penyisiran hingga berujung pada jatuhnya korban dari kalangan sipil. Massa menyebut sedikitnya lima warga sipil meninggal dunia dan sejumlah lainnya mengalami luka-luka.







Dalam pernyataan sikapnya, massa aksi mempertanyakan peran negara dalam menangani konflik di Papua, khususnya di Dogiyai. Mereka menilai pendekatan keamanan yang tidak proporsional berpotensi memperpanjang siklus kekerasan di tengah masyarakat.


“Negara seharusnya hadir untuk melindungi masyarakat, bukan justru memperbesar konflik. Penegakan hukum harus mengedepankan keadilan, bukan balas dendam,” demikian salah satu pernyataan dalam mimbar rakyat tersebut.


Melalui aksi ini, IPMADO berharap pemerintah dan aparat penegak hukum dapat memberikan perhatian serius terhadap kasus di Dogiyai, serta memastikan proses penegakan hukum berjalan secara adil, transparan, dan menghormati prinsip-prinsip hak asasi manusia bagi seluruh pihak yang terdampak.


×
Berita Terbaru Update