Kapiraya, Kapiwuunews.org — Bentrokan antar dua kelompok warga yang terjadi di Kampung Kapiraya, Distrik Mimika Barat Tengah, Kabupaten Mimika, Di tengah ketegangan tersebut, sebuah rekaman suara seorang ibu yang berbicara dalam bahasa daerah Mee viral di berbagai grup WhatsApp dan media sosial pada Jumat (13/2/2026).
Rekaman itu memuat tangisan dan jeritan hati seorang warga yang mengaku menyaksikan langsung dampak konflik di wilayah selatan Kapiraya.
“Saya menangis bukan tanpa alasan. Saya menangis karena tanah adat Kapiraya, tiga kampung dan rumah-rumah hangus terbakar. Sebagai seorang ibu, hati saya hancur melihat kekerasan antar suku yang membawa luka bagi kita semua.”
Jika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, ungkapan tersebut menggambarkan kesedihan mendalam atas kondisi di wilayah selatan Kapiraya, di mana dua kampung dilaporkan terbakar dan suara tembakan terdengar bersahut-sahutan.
“Ketika seorang Ibu bersuara, itu bukan sekadar kata itu adalah jeritan hati demi masa depan anak-anaknya. Konflik antara Suku Kei dan Suku Mee di Kapiraya harus segera diakhiri. Wakil rakyat yang dahulu datang meminta suara, kini saatnya datang membawa solusi dan berdiri bersama rakyat. Mari panggil Bupati dan Gubernur Provinsi Papua Tengah untuk turun tangan, merajut kembali tali persaudaraan yang sempat terputus, agar tanah ini kembali aman, damai, dan masyarakat hidup rukun seperti sedia kala.”
Rekaman suara itu cepat menyebar di berbagai grup WhatsApp dan memicu perbincangan luas di media sosial. Banyak warganet menilai tangisan tersebut sebagai jeritan masyarakat kecil yang terhimpit konflik dan mendambakan rasa aman serta kehadiran negara.
"Konflik tapal batas antara Mimika dan Deiyai telah berlangsung lama akibat perbedaan klaim wilayah administratif. Masyarakat perbatasan menjadi pihak yang paling terdampak setiap kali ketegangan memuncak."
Tangisan ibu dari Kapiraya itu kini menjadi simbol kepedihan warga yang berharap perdamaian segera terwujud di tanah yang mereka sebut rumah.
