PANIAI, Kapiwuunews.org — Tokoh pemuda Papua Tengah, khususnya dari Siriwo, Demianus Obaipa, S.H., menyampaikan pernyataan tegas kepada seluruh masyarakat dan pengguna Jalan Trans Nabire–Ilaga terkait aksi pembakaran hutan yang belakangan terjadi di wilayah Siriwo. Selasa 25 Agustus 2026
Ia mengimbau kepada oknum yang sengaja datang dan melakukan pembakaran hutan agar menghentikan tindakan tersebut.
Menurutnya, musim kemarau yang berkepanjangan memang dapat meningkatkan risiko kebakaran, namun kondisi tersebut tidak boleh dijadikan alasan untuk membakar hutan secara sembarangan.
“Kami minta kepada oknum yang datang membakar hutan di sepanjang Jalan Trans Nabire–Ilaga, khususnya wilayah Siriwo, supaya jangan lagi melakukan pembakaran.
Jangan karenamendapatkan bayaran atau kepentingan tertentu, lalu alam dan hutan kami dikorbankan,” ujarnya.
Demianus menegaskan bahwa masyarakat Siriwo memiliki hubungan yang sangat erat dengan hutan. Hutan bukan hanya tempat tinggal berbagai jenis satwa, tetapi juga menjadi sumber kehidupan dan mata pencaharian masyarakat melalui kegiatan berburu.
“Masyarakat Siriwo hidup dari hutan. Kami mendapatkan sumber makanan dari hasil berburu seperti kasuari, kuskus, burung dan berbagai sumber kehidupan lainnya. Karena itu, jangan datang mengganggu, merusak, mencemarkan atau membakar hutan kami,” tegasnya.
Ia juga mengingatkan bahwa hutan memiliki nilai penting secara nasional maupun adat. Karena itu, seluruh pihak yang melintasi maupun beraktivitas di wilayah Siriwo diminta menghormati alam dan masyarakat setempat.
Menurutnya, masyarakat Siriwo selama ini telah menunjukkan kesadaran dalam menjaga hubungan dengan para pengguna jalan Trans Nabire–Ilaga. Bahkan ketika terjadi pohon tumbang, longsor, maupun kecelakaan akibat kendaraan, masyarakat tidak serta-merta melakukan aksi pemalangan jalan.
“Masyarakat Siriwo sudah mempunyai kesepakatan bersama. Ketika terjadi pohon tumbang, longsor atau kendaraan mengalami kecelakaan, masyarakat tidak langsung melakukan aksi palang-memalang. Ini menunjukkan bahwa masyarakat Siriwo memiliki kesadaran dan akal sehat untuk menjaga kepentingan bersama,” katanya.
Ia meminta masyarakat dari wilayah sekitar maupun pengguna jalan, baik masyarakat pegunungan maupun pesisir, untuk sama-sama menjaga hutan di wilayah masing-masing.
“Tuhan memberikan hutan dan alam sebagai sumber berkat bagi manusia. Kalau kita punya hutan di daerah sendiri, mari kita jaga. Jangan datang ke wilayah Siriwo dan membuat masalah dengan membakar hutan,” ujarnya.
Demianus menambahkan bahwa hutan merupakan sumber kehidupan, tempat mencari nafkah, sekaligus pelindung bagi masyarakat. Hutan juga berperan penting dalam menjaga udara dan keseimbangan lingkungan.
“Hutan adalah pelindung bagi kami. Hutan adalah napas kami. Dari hutan kami mendapatkan udara segar dan sumber kehidupan. Karena itu, hutan harus dijaga bersama,” pungkasnya.
Ia berharap tidak ada lagi pembakaran hutan di wilayah Siriwo. Menurutnya, jika tindakan tersebut terus berulang, masyarakat akan mengambil langkah bersama melalui mekanisme yang disepakati, dengan tetap mengutamakan keamanan, ketertiban dan kepentingan masyarakat.
“Kalau pembakaran masih terus dilakukan, masyarakat Siriwo akan mengambil sikap bersama. Kami akan melibatkan pihak-pihak terkait untuk mencari solusi agar hutan tidak terus dirusak. Kami tidak ingin terjadi konflik, tetapi kami juga tidak bisa diam ketika hutan dan sumber kehidupan masyarakat dirusak,” tegas Demianus.
Ia kembali mengajak seluruh masyarakat untuk menjaga hutan dan tidak melakukan pembakaran secara sembarangan.
“Mari kita sama-sama menjaga alam. Jangan hanya melihat kepentingan sesaat atau rupiah, tetapi lihat masa depan anak cucu kita. Hutan Siriwo bukan hanya milik satu orang, tetapi bagian dari kehidupan masyarakat dan kekayaan alam yang harus dijaga bersama,” tutupnya.
